#30 tag 24jam
Fasilitasi perjumpaan bisnis jaga asa petani teh Kemuning
Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lawu, ketika pucuk-pucuk teh di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ... [1,438] url asal
#penguatan-umkm #umkm-binaan-bi #bi-jatim #teh-kemuning #kebun-teh-kemuning #umkm
Surabaya (ANTARA) - Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lawu, ketika pucuk-pucuk teh di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dipetik satu per satu untuk dibawa menuju rumah produksi teh.
Di tempat itu, aroma khas daun teh yang baru diproses menjadi penanda perjalanan panjang Eko Wuryanto membangun usaha yang kini tidak hanya menghasilkan minuman, tetapi juga membuka ruang penghidupan bagi petani di sekitarnya.
Di antara perkebunan dan aroma teh ini, Eko Wuryanto memilih jalan yang tidak sederhana, ketika memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan pada 2012 untuk merintis usaha sendiri, setelah melihat potensi teh Kemuning yang belum banyak dikenal wisatawan.
"Waktu pertama buka, keuntungan satu bulan hanya sekitar Rp300 ribu, kira-kira setara dengan gaji saya selama tiga hari ketika masih bekerja di perusahaan," kata pemilik usaha teh ini, mengenang awal perjalanannya.
Keputusan tersebut berawal ketika wisatawan mulai berdatangan ke kawasan kebun Kemuning pada 2010, tetapi belum banyak pilihan bagi mereka untuk membeli teh lokal, sekaligus melihat proses pengolahannya.
Eko kemudian membangun usaha dari modal sekitar Rp8 juta dengan peralatan sederhana yang sebagian dibuat sendiri, meski pada awalnya kapasitas produksi sekitar 50 kilogram per bulan pun belum selalu terserap pasar. Usaha itu semakin berkembangan dengan sentuhan pendampingan dari Bank Indonesia (BI).
Lebih dari satu dekade berlalu, usaha yang dahulu hanya bermitra dengan lima, hingga enam petani itu, kini mampu mengolah sekitar 5-6 ton teh per bulan, dengan melibatkan 26 petani dari lahan sekitar lima hektare.
Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari kapasitas produksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang berputar di sekitar kebun karena Eko memilih membeli pucuk teh segar dari petani setempat dengan harga minimal Rp5.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan kisaran harga yang menurutnya diterima petani di sejumlah sentra teh lain.
“Harapan saya bagaimana petani ikut merasakan manfaatnya, karena keuntungan bukan hanya untuk saya sendiri, tetapi bagaimana 26 petani ini benar-benar semangat dan berdaya,” ujarnya.
Beragam selera
Di rumah produksi yang menjadi pusat aktivitas Eko dan para petani, pucuk teh yang baru dipetik melewati proses pelayuan, penggulungan dan pengeringan sebelum disimpan sebagai bahan baku untuk kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk.
Eko tidak sekadar mempertahankan teh dalam bentuk konvensional, tetapi mencoba membaca selera konsumen dengan menghadirkan teh hijau, hitam, putih, melati, jahe, serai, buah, rempah, hingga matcha yang mulai diminati sejumlah kafe dan restoran di Jakarta.
Ada pula karakter khas yang menjadi identitas produk teh tersebut berupa teh rako, yakni teh dengan sensasi rasa menyerupai kopi yang menurut Eko muncul secara alami dari karakter tanah Kemuning yang dahulu juga menjadi tempat tumbuh tanaman kopi.
Sementara itu, teh putih dibuat dari pucuk daun yang belum mekar dan diproses dengan pengeringan bersuhu rendah, sehingga karakter bahan bakunya tetap dipertahankan, menjadi salah satu produk yang menunjukkan upaya Eko meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Dari inovasi tersebut, omzet usaha yang pada 2023 berada di kisaran Rp85 juta per bulan, meningkat menjadi sekitar Rp250-300 juta per bulan pada 2026, sedangkan jumlah reseller bertambah dari 235 menjadi sekitar 620.
Pertumbuhan pasar itu, bahkan membawa pesanan dalam jumlah besar, setelah Eko mengikuti pameran di Surabaya dan bertemu pembeli dari Boyolali yang kini memesan sekitar 3.000 produk per hari, dengan nilai transaksi sekitar Rp6 juta.
Pertemuan tersebut menjadi contoh bagaimana pameran tidak berhenti sebagai ruang promosi, tetapi dapat membuka rantai perdagangan baru bagi UMKM daerah ketika produk dipertemukan dengan pembeli yang membutuhkan pasokan secara berkelanjutan.

Membuka pasar
Usaha teh yang dipelopori Eko bersama para petani di Kemuning itu, kini menjadi salah satu UMKM binaan Bank Indonesia (BI) yang mendapat dukungan melalui pendampingan produksi, penguatan peralatan, promosi dan fasilitasi pertemuan dengan calon pembeli melalui berbagai kegiatan pameran.
Bagi Eko, dukungan tersebut membantu menjawab persoalan yang selama ini menjadi salah satu keterbatasan usaha, yakni kemampuan meningkatkan kapasitas produksi, sekaligus memperluas akses pasar ketika permintaan mulai tumbuh.
Ia mengaku salah satu dampak yang paling terasa setelah mengikuti kegiatan yang difasilitasi BI adalah terbukanya pertemuan dengan pembeli dalam skala lebih besar, termasuk pesanan yang kini mencapai ribuan produk setiap hari.
Bahkan, salah satunya melalui keikutsertaannya dalam "Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026" yang digelar pada Juli lalu di Surabaya mampu mempertemukan Eko dengan pembeli asal Boyolali, Jawa Tengah, yang justru membuka harapan lebih luas bagi Teh Gambyong.
Dari pembeli yang lokasinya tidak jauh dari Kemuning itu, Teh Gambyong memperoleh pemesanan mencapai sekitar 3.000 pieces produk setiap hari dengan nilai transaksi sekitar Rp6 juta per hari.
"Unik juga, mitra kami dari Boyolali justru bertemu di Surabaya. Dari satu buyer saja, setiap hari kami bisa mendapatkan sekitar Rp6 juta," kata Eko.
Dukungan BI, sekaligus memberi ruang bagi Teh Gambyong untuk memperkenalkan produk lain seperti teh kumis kucing, teh rempah, teh rosella, dan berbagai racikan herbal yang dikembangkan mengikuti kebutuhan pasar.
Bagi BI, pendampingan terhadap UMKM, seperti Teh Gambyong, menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal agar tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki akses terhadap pasar, jejaring usaha dan peningkatan kualitas produksi.
Meskipun demikian, pertumbuhan permintaan menghadirkan persoalan baru karena kapasitas produksi saat ini masih belum mampu memenuhi sejumlah permintaan besar, termasuk calon pembeli ekspor yang membutuhkan pasokan sekitar 35-45 ton atau satu kontainer per bulan.
Kondisi tersebut membuat Eko memilih memprioritaskan pasar domestik, sembari memperkuat kapasitas produksi dan memenuhi sejumlah persyaratan pengembangan usaha, termasuk proses pengajuan BPOM setelah sebelumnya mengantongi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dan sertifikasi halal.
Menghidupkan kebun
Bagi Eko, memperbesar produksi bukan semata-mata tentang mengejar omzet karena keberlanjutan usaha bergantung pada keberadaan petani yang memasok bahan baku dari kebun-kebun di sekitar Kemuning.
Musim kemarau menjadi tantangan tersendiri karena pertumbuhan pucuk melambat dan pasokan berkurang, sementara permintaan tetap berjalan, sehingga peningkatan kapasitas produksi tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan kebun teh.
Karena itu, kemitraan dengan petani menjadi bagian penting dari perjalanan Teh Gambyong, termasuk upaya menjaga agar hasil panen tetap memiliki nilai ekonomi yang mendorong masyarakat mempertahankan kebun.
Harapan tersebut mulai menemukan bentuk, ketika semakin banyak petani tertarik bergabung dan memperluas lahan yang dapat menjadi sumber bahan baku sekaligus menjaga roda ekonomi masyarakat sekitar.
Di sisi lain, rumah produksi Teh Gambyong tidak hanya menjadi tempat mengolah dan menjual teh, tetapi juga ruang edukasi bagi wisatawan dan mahasiswa yang ingin melihat perjalanan teh sejak dipetik, hingga siap diseduh.
Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur memanfaatkan kebun serta rumah produksi tersebut sebagai tempat penelitian, sementara pengunjung dapat mengenal proses pengolahan yang selama ini hanya mereka lihat dalam bentuk produk jadi.
"Jadi kami tidak hanya menjual produk, tetapi juga memberikan edukasi, mulai dari tanaman, proses pengolahan, sampai produk itu siap dinikmati," ujar Eko.
Dari sebuah usaha kecil yang dahulu hanya menghasilkan keuntungan sekitar Rp300 ribu sebulan, Teh Gambyong kini tumbuh menjadi usaha yang menghubungkan kebun, petani, pengolah, pasar dan konsumen dalam satu rantai nilai lokal.
Bagi Eko, perjalanan itu pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana membuat teh Kemuning dikenal lebih luas, tetapi sebuah cara secangkir teh yang lahir dari lereng Lawu mampu menjaga agar petani tetap memiliki alasan untuk mempertahankan kebunnya hingga masyarakat sekitar ikut tumbuh bersama.
Di balik upaya mendorong UMKM agar naik kelas, penguatan usaha tidak cukup hanya dengan memperkenalkan produk kepada pasar, tetapi juga membutuhkan kelembagaan yang kuat agar pelaku usaha mampu berkembang secara berkelompok.
Bank Indonesia Jawa Timur menempatkan penguatan kelembagaan melalui koperatisasi sebagai salah satu fondasi pengembangan UMKM, terutama dengan mendorong kelompok tani yang sebelumnya berjalan secara individual untuk membangun sinergi melalui kelompok tani hingga gabungan kelompok tani dan koperasi.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Jawa Timur Yono Haryono mengatakan pendekatan tersebut ditempuh karena UMKM memiliki daya tawar yang lebih kuat ketika pelaku usaha mampu bersinergi, sekaligus memudahkan mereka dalam mengembangkan produktivitas dan memperluas skala usaha.
Setelah kelembagaan diperkuat, persoalan berikutnya adalah pembiayaan yang menjadi salah satu tantangan ketika pelaku UMKM hendak meningkatkan kapasitas produksinya, sehingga fasilitasi akses pembiayaan menjadi pilar berikutnya dalam pengembangan UMKM.
Melalui berbagai kegiatan, seperti Java Coffee Festival (JCFF) dan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar), BI Jatim tidak hanya mempertemukan UMKM dengan konsumen, tetapi juga mendorong terjadinya perjumpaan bisnis agar pelaku usaha memiliki akses terhadap sumber pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan bisnisnya.
Upaya tersebut kemudian dilanjutkan dengan membuka akses pasar yang lebih luas karena penguatan kelembagaan dan pembiayaan belum cukup tanpa kepastian pasar bagi produk UMKM.
Akses pasar itu diberikan mulai dari pasar domestik hingga peluang ekspor, termasuk melalui berbagai pameran dan agenda perdagangan yang mempertemukan UMKM potensial dengan calon pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri.
Dukungan terhadap UMKM dibangun secara bertahap, mulai dari memperkuat kelembagaan dan kemampuan berkelompok, membuka akses pembiayaan, hingga memperluas pasar agar usaha yang telah tumbuh memiliki peluang untuk naik kelas dan berkelanjutan.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)