Ini kan harus tapak dulu yang kita tetapkan. Dari tapak yang sudah ditetapkan, nanti PLN itu melakukan tender lelang untuk pelaksanaannya
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan segera membuka tender pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) setelah penetapan tapak pembangunan PLTN.
“Ini kan harus tapak dulu yang kita tetapkan. Dari tapak yang sudah ditetapkan, nanti PLN itu melakukan tender lelang untuk pelaksanaannya,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Kamis.
Yuliot mengatakan ada 28 tapak yang sudah disiapkan tempo hari. Ia menyampaikan akan ada tambahan beberapa tapak lagi.
Lebih lanjut, Yuliot menyampaikan kebutuhan listrik untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan di beberapa daerah cukup besar dan tidak bisa hanya mengandalkan energi baru terbarukan.
Kapasitas listrik yang cukup besar, tutur Yuliot, di antaranya disuplai dari PLTN. Ia merujuk ke Prancis yang mayoritas suplai listriknya berasal dari PLTN.
“Kalau kita lihat untuk Korea sendiri, mereka waktu awal mengembangkan PLTN justru belajar dari Indonesia, karena reaktor riset kita yang punya. Itu tahun 1962,” ucap Yuliot.
Akan tetapi, sekarang, Yuliot menyampaikan Korea telah menjadi vendor teknologi PLTN. Selain itu, negara-negara ASEAN juga mulai mengembangkan PLTN, seperti Timor Leste yang sudah membuat perencanaan PLTN, Vietnam yang sudah memulai konstruksi, termasuk Thailand, Malaysia dan Singapura.
“Jadi, ini kan kita karena sudah ada target waktu, dari sekarang kan kita juga sudah harus menyiapkan karena pembangunan PLTN itu kan membutuhkan waktu 7 tahun sampai dengan 10 tahun. Kalau target tahun 2034, ya dari sekarang kita harus menyiapkan tapak untuk PLTN itu sendiri,” ujar Yuliot.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan Indonesia akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berkapasitas 7 gigawatt (GW) untuk mewujudkan ketahanan energi.
Selain itu, Hashim juga menyampaikan Indonesia memiliki target ambisius dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp).
Berbagai langkah tersebut, tutur Hashim, merupakan upaya pemerintah menjamin keberlangsungan energi bagi masyarakat Indonesia.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026