REDD+ memegang peranan krusial, tidak hanya dalam memperkuat tata kelola iklim global
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia dan Sekretariat Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) mendorong kerja sama terkait tata kelola hutan dan pembiayaan iklim melalui program Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) bersama negara-negara di kawasan Asia Pasifik.
“REDD+ memegang peranan krusial, tidak hanya dalam memperkuat tata kelola iklim global, tetapi juga mengokohkan tata kelola kehutanan nasional,” kata Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Perubahan Iklim Haruni Krisnawati dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Penguatan kerja sama ini diwujudkan dalam ajang “REDD+ Community of Practice Regional Meeting for Asia-Pacific Countries” yang berlangsung hingga 15 Oktober 2026 di Bali.
Haruni mengatakan, acara ini dihadiri para ahli, pejabat pemerintah, dan praktisi kehutanan dari kawasan Asia-Pasifik untuk berbagi pengalaman praktis, mengevaluasi capaian, serta merumuskan strategi penanganan deforestasi dan degradasi hutan.
“Adalah sebuah kehormatan untuk terus melindungi dan mengelola hutan secara berkelanjutan. Pertemuan ini menjadi wahana berharga untuk saling belajar dari pendekatan yang beragam, memperkuat jaringan profesional, serta menjajaki peluang kerja sama baru,” ujarnya.
Sementara itu, Team Lead AFOLU Sekretariat UNFCCC Dirk Nemitz mengatakan, pertemuan di Bali ini dirancang untuk memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman teknis antarnegara di kawasan Asia-Pasifik terkait implementasi REDD+ dan merespons lanskap pendanaan dan tata kelola REDD+ yang semakin kompleks pasca-implementasi Pasal 6 Persetujuan Paris.
“Hasil akhir dan keberlanjutan dari forum ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif para peserta untuk mendukung implementasi nyata," kata Nemitz.
Selama penyelenggaraan, para peserta membahas berbagai isu strategis, antara lain Refleksi 10 tahun implementasi REDD+; Harmonisasi pelaporan dan pendanaan berbasis hasil (result-based finance).
Lebih lanjut, Penguatan pengaman (safeguard) dan sinergi Konvensi Rio; dan kunjungan lapangan restorasi mangrove di Arboretum Mangrove, Mangrove Information Center dan Pusat Pembibitan Mangrove Wantilan di Bali untuk melihat praktik terbaik restorasi ekosistem pesisir.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026