Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Pertanian memperkuat kolaborasi antara balai, perguruan tinggi, dan industri, termasuk dalam pengembangan komoditas kopi dan kakao
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet memacu hilirisasi perkebunan untuk meningkatkan daya saing melalui pemanfaatan hasil riset dan inovasi menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.
"Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian Pertanian memperkuat kolaborasi antara balai, perguruan tinggi, dan industri, termasuk dalam pengembangan komoditas kopi dan kakao," kata Wamentan terkonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Wamentan melakukan kunjungan kerja ke Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) di Sukabumi, Jawa Barat.
Dia menyampaikan, kunjungan tersebut untuk melihat langsung potensi fasilitas, lahan, serta hasil inovasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung program strategis nasional, khususnya penguatan hilirisasi produk pertanian.
Ia menuturkan dirinya mendapat tugas untuk mengakselerasi pembangunan melalui pemanfaatan hasil riset dan perakitan agar lebih cepat menghasilkan inovasi yang siap diterapkan.
Menurut dia, percepatan tersebut membutuhkan kolaborasi yang lebih erat dengan perguruan tinggi serta berbagai lembaga terkait sehingga inovasi dapat segera diadopsi menjadi teknologi unggul yang mendukung hilirisasi perkebunan dan peningkatan daya saing.
“Kita perlu mendorong kolaborasi yang lebih erat, khususnya dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait, sehingga inovasi yang dihasilkan bisa lebih cepat diadopsi menjadi teknologi yang unggul,” ujar Alim.
Dia mengatakan, hasil inovasi yang telah dikembangkan BRMP TRI perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
"Kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat adopsi teknologi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan," ucapnya.
Ia menilai komoditas seperti kopi dan kakao memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui inovasi teknologi dan penguatan kemitraan. Karena itu, hasil riset yang sudah tersedia perlu disambungkan dengan kebutuhan teknis dan peluang pengembangan di dunia usaha.
“Potensinya luar biasa. Tinggal bagaimana kita menyambungkan hasil inovasi ini dengan kebutuhan teknis dan mitra yang tepat,” katanya.
Lebih lanjut Wamentan mengatakan, optimalisasi fasilitas dan lahan milik BRMP TRI juga perlu menjadi perhatian. Aset negara tersebut dapat dimanfaatkan lebih produktif melalui kemitraan, termasuk untuk kegiatan pengembangan teknologi, pendidikan, pelatihan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kita perlu mengajak lebih banyak mitra untuk memanfaatkan fasilitas dan lahan yang ada. Nanti kebutuhannya kita petakan, mitranya kita identifikasi, dan saya siap membantu menghubungkan agar kolaborasi ini bisa berjalan,” kata dia.
Ia juga mendorong agar model kerja sama yang berhasil dikembangkan di balai tersebut dapat direplikasi di balai-balai lain di bawah Kementerian Pertanian. Dengan demikian, hasil inovasi dari berbagai komoditas dapat dikembangkan secara lebih terarah dan terintegrasi.
Kementan memiliki sejumlah balai yang menangani komoditas strategis, mulai dari tanaman industri dan penyegar, kelapa sawit, tebu, tanaman rempah dan obat, hingga tanaman pangan dan hortikultura. Potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui konsorsium dan kolaborasi lintas lembaga.
“Kalau model kolaborasi ini berhasil, saya kira bisa kita kembangkan secara paralel di balai-balai lain. Kita sudah memiliki konsorsium yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan mitra, dan ini akan kita lanjutkan,” kata Alim.
Selain hilirisasi komoditas, kunjungan tersebut juga membahas potensi pengembangan teknologi bioenergi.
Ia juga menilai hasil pengembangan bahan baku seperti kelapa, kopi, dan singkong perlu dilanjutkan dengan peningkatan kualitas serta efisiensi teknologi.
Pengembangan sumber bahan baku lain juga dapat dikaji dengan mempertimbangkan kelayakan teknologi dan ketersediaannya.
Ia menegaskan pengembangan bioenergi perlu dilakukan secara cermat agar tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pangan. Karena itu, pemilihan bahan baku dan teknologi harus mempertimbangkan aspek efisiensi, keberlanjutan, dan keseimbangan kebutuhan.
Melalui penguatan hilirisasi, Wamentan berharap hasil riset dan inovasi perkebunan dapat dimanfaatkan lebih cepat oleh dunia usaha, mendorong lahirnya produk bernilai tambah, serta meningkatkan daya saing komoditas Indonesia.
Sinergi antara balai, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan industri menjadi fondasi untuk menjadikan inovasi pertanian sebagai penggerak produktivitas dan pertumbuhan ekonomi sektor perkebunan.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026