Petani di Aceh Tamiang panen padi secara manual di tengah banjir
Petani di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang terpaksa memanen padi secara manual menggunakan sabit di tengah genangan air di sawah yang masih tinggi ...
(Antara) 25/10/26 14:25 1178941
Banda Aceh (ANTARA) - Petani di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang terpaksa memanen padi secara manual menggunakan sabit di tengah genangan air di sawah yang masih tinggi akibat jebolnya tanggul sungai di wilayah setempat.
Salah seorang petani Desa Teluk Halban, Sugiono (36), Ahad, mengatakan sawah mulai terendam sejak tanggul yang jebol di Desa Marlempang, airnya mencapai permukiman dan kawasan pertanian setempat.
"Sudah lebih dari sepekan sawah terendam. Awalnya ketinggian air sekitar satu meter lebih sehingga kami belum bisa memanen padi,” kata Sugiono.
Sebagai informasi, banjir akibat jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang telah menyebabkan areal persawahan di Desa Teluk Halban terendam saat padi memasuki masa panen.
Sugiono mengatakan, petani baru dapat memulai panen secara bertahap pada hari kesembilan, tetapi, kondisi tanaman yang terlalu lama terendam menyebabkan batang padi mulai membusuk dan bulirnya berguguran.
Untuk menyelamatkan hasil panen yang tersisa, petani menggunakan perahu karet atau perahu berbahan terpal saat memotong padi untuk dibawa ke darat. Cara tersebut ditempuh karena alat panen (mesin combine) tidak dapat beroperasi di tengah genangan banjir.
Sugiono menuturkan, petani juga kesulitan mendapatkan tenaga kerja karena kondisi sawah yang berat, air berbau, serta menimbulkan rasa gatal.
Keterbatasan alat panen dan sulitnya mencari tenaga kerja membuat proses panen membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.
Sebelumnya, biaya panen mencapai Rp150 ribu per rantai. Namun, dalam kondisi saat ini, petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen dari hasil panen.
“Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya,” ujarnya.
Menurut Koordinator Kecamatan (Korcam) Kelompok Tani Merdeka ini, areal persawahan yang terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare, dan jumlah petani lebih dari 100 orang.
Sebelum padi terendam banjir, Sugiono mengaku telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengupayakan ketersediaan alat panen sebelum banjir mencapai persawahan.
Petani juga sempat bergotong royong memperkuat tanggul seadanya, tetapi derasnya aliran air tidak mampu dibendung.
Sementara itu, Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak mengatakan genangan air mulai surut, tetapi sebagian besar persawahan masih terendam karena air belum dapat mengalir keluar secara optimal.
Ia menyebutkan, luas areal persawahan produktif di Desa Teluk Halban mencapai 62 hektare dengan pola tanam dua kali setahun. Sekitar 70 persen areal persawahan terdampak banjir ketika tanaman padi hampir memasuki masa panen.
Menurut dia, sektor pertanian menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar masyarakat Desa Teluk Halban.
Selain sawah milik masyarakat, banjir juga mengancam lahan percontohan penerapan teknologi pertanian (PMAAS) seluas sekitar satu hektare yang sebelumnya telah ditanami pada Juli lalu. Lahan tersebut belum dapat dipanen meskipun tanaman padi sudah menguning.
"Percepatan penanganan tanggul sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian petani, terutama ketika banjir terjadi menjelang masa panen," ujarnya.
Plt Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (Distanakbun) Aceh Tamiang, Irwan Hadi membenarkan dampak tanggul jebol berimbas terhadap ratusan hektare sawah di wilayah pesisir Aceh Tamiang.
"Iya, banyak sawah yang terimbas banjir. Tapi kami belum dapat update infonya berapa hektare. Ini sedang tunggu data masuk," demikian Irwan Hadi.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026