Jakarta (ANTARA) - PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memperkuat pengembangan bisnis berbasis hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral sekaligus memperkuat fundamental perseroan dalam jangka panjang.
Upaya tersebut sejalan dengan kinerja perusahaan yang tetap solid pada semester I 2026, ditopang pertumbuhan bisnis nikel serta bauksit dan alumina.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam, Arini Kasmira dalam keterangannya diterima di Jakarta, Senin, menyampaikan capaian kinerja pada semester I 2026 mencerminkan fundamental perseroan yang tetap solid, didukung optimalisasi kinerja komoditas utama serta pengelolaan biaya dan risiko yang disiplin.
"Antam terus menjaga momentum pertumbuhan melalui optimalisasi kinerja operasional, peningkatan efisiensi, serta penguatan portofolio bisnis pada komoditas emas, nikel, serta bauksit dan alumina. Pada saat yang sama, kami tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan dan risiko," ujar Arini.
Menurut dia, pengembangan bisnis berbasis hilirisasi menjadi salah satu langkah perseroan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral dan memperkuat kinerja jangka panjang.
"Dengan fundamental yang semakin kuat dan portofolio komoditas yang terdiversifikasi, kami optimistis Antam dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan serta memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," katanya lagi.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Antam membukukan pendapatan sebesar Rp62,7 triliun pada semester I 2026, meningkat 6,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 36 persen menjadi Rp6,4 triliun.
Kinerja tersebut didukung pertumbuhan pendapatan dari bisnis nikel serta bauksit dan alumina. BRIDS mencatat, pendapatan kedua bisnis tersebut masing-masing tumbuh 32,4 persen dan 28,3 persen, sedangkan bisnis emas tumbuh moderat sebesar 1,4 persen.
Pertumbuhan pendapatan ditopang oleh lonjakan pendapatan bisnis nikel serta bauksit dan alumina masing-masing 32,4 persen dan 28,3 persen, sedangkan emas tumbuh moderat 1,4 persen.
BRIDS menilai, perbaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), terutama pada komoditas nikel, menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan laba bersih Antam.
Pada kuartal II-2026, ASP nikel tercatat meningkat 18,7 persen secara kuartalan dan 44 persen secara tahunan menjadi 80 dolar AS per ton. Kenaikan tersebut didorong oleh harga patokan mineral (HPM) yang lebih tinggi. Adapun volume penjualan bijih nikel mencapai 3,4 juta ton.
Dari sisi profitabilitas, margin laba bersih atau net profit margin (NPM) bisnis nikel meningkat 410 basis poin secara kuartalan menjadi 54,5 persen. Sementara itu, NPM bisnis bauksit mencapai 24,1 persen dan emas sebesar 4,4 persen.
Untuk bisnis emas, volume penjualan pada kuartal II-2026 mencapai 9,6 ton, meningkat 13,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, BRIDS mencatat harga emas pada periode tersebut turun 9,2 persen secara kuartalan seiring normalisasi harga, meskipun masih tumbuh 38 persen sepanjang tahun.
Secara keseluruhan, laba bersih Antam pada semester I-2026 telah mencapai 69,7 persen dari proyeksi setahun penuh BRIDS dan 70 persen dari konsensus analis. Adapun pendapatan perseroan pada periode tersebut mencapai 52,9 persen dari estimasi setahun penuh BRIDS.
BRIDS mempertahankan proyeksi pendapatan Antam sepanjang 2026 sebesar Rp118,7 triliun dan laba bersih Rp9,2 triliun.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026