Batam (ANTARA) - PT PLN Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menegaskan pemadaman listrik di Batam dan Bintan pada Senin (12/10), tidak berkaitan dengan pengujian operasional pusat data (data center) sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat.
Direktur Utama PT PLN Batam Kwin Fo mengatakan informasi yang mengaitkan gangguan kelistrikan tersebut dengan pengujian pusat data tidak benar.
“Pemadaman meluas yang terjadi Senin (12/10) di Pulau Batam dan Bintan sama sekali tidak ada sangkut paut dengan data center. Informasi bahwa ada pengetesan atau commissioning untuk operasional data center, dan membutuhkan daya sangat besar, itu sama sekali tidak benar,” kata Kwin di Batam, Minggu.
Ia menjelaskan, pusat data yang tengah berkembang di Batam diperkirakan belum beroperasi penuh dalam waktu dekat.
“Menurut kami, data center belum akan beroperasi penuh. Dan jika mulai beroperasi, tingkat operasionalnya diperkirakan belum melebihi 10 persen dari kapasitas total data center tersebut,” katanya.
Kwin Fo juga memastikan kesiapan pasokan listrik untuk kebutuhan pusat data telah diperhitungkan dalam perencanaan PLN Batam.
“Sampai saat ini PLN Batam sangat siap untuk data center. Jadi kita tidak ada defisit maupun kekurangan pasokan. Cadangan daya kami masih berkisar di angka hampir 20 persen,” katanya.
Saat ini, sistem kelistrikan Batam memiliki daya pasok 930 megawatt (MW), dengan beban mencapai sekitar 780 MW. Dengan demikian, cadangan daya masih mendekati 20 persen.
Menurut Kwin, PLN Batam juga menyiapkan penambahan daya untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan listrik yang tinggi.
“Beban listrik Batam ditargetkan meningkat dari sekitar 930 MW menjadi lebih dari 1.000 MW. Maka dari itu, kami perkirakan pada akhir tahun 2027, daya pasok akan mencapai 1.200 hingga 1.300 MW,” katanya.
Ia menyebut pertumbuhan kebutuhan listrik di Batam telah melampaui 15 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi listrik nasional yang menurutnya berada di kisaran 3-4 persen.
“Kami perkirakan di rentang tahun 2027-2032, beban akan bertambah sekitar 300-400 MW. Ada pertumbuhan sekitar 30 persen. Maka kita akan bangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan juga Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru,” ujar dia.
Selain membangun pembangkit baru, PLN Batam merencanakan penggunaan Battery Energy Storage System (BESS) atau sistem penyimpanan energi berbasis baterai untuk mendukung kelistrikan Batam-Bintan.
Ia menjelaskan kemampuan tersebut berbeda dengan pembangkit konvensional seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, yang membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali beroperasi setelah berhenti.
“Waktu yang dibutuhkan baterai untuk melepaskan daya itu dalam hitungan nanodetik atau milidetik, jadi jauh lebih cepat daripada pembangkit," katanya.
Melalui penambahan pembangkit dan sistem penyimpanan energi, PLN Batam berharap dapat mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik sekaligus memperkuat cadangan daya.
Pewarta: Amandine Nadja
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026