Percepatan ini penting agar potensi sumber daya migas Aceh dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti secara optimal
Banda Aceh (ANTARA) - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mendorong percepatan eksplorasi dan pengembangan potensi migas di lepas pantai barat selatan Aceh (Barsela) tepatnya blok Kabupaten Aceh Singkil dan Aceh Barat sebagai upaya mendukung ketahanan energi nasional.
"Percepatan ini penting agar potensi sumber daya migas Aceh dapat segera dievaluasi dan ditindaklanjuti secara optimal," kata Kepala BPMA Mawardi Nur dalam keterangannya, di Banda Aceh, Senin.
Pernyataan itu disampaikan Mawardi Nur usai melakukan pembahasan bersama Conrad Asia Energy Ltd dalam workshop penentuan status eksplorasi (PSE) struktur Meulaboh dan Singkil, di Jakarta.
Untuk diketahui, BPMA telah melaksanakan penandatanganan kontrak kerja sama dengan Conrad Asia Energy Ltd untuk wilayah kerja Offshore North West Aceh/ONWA (blok Meulaboh) dan Offshore South West Aceh/OSWA (blok Singkil) pada Januari 2023.
Conrad Asia Energy sendiri menjadi perusahaan pemenang lelang wilayah kerja penawaran langsung tahap I tahun 2022 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM).,
Mawardi mengatakan, pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat tindak lanjut potensi gas di lepas pantai barat daya Aceh, mulai dari evaluasi teknis dan penentuan status eksplorasi hingga persiapan menuju tahap pengembangan lapangan atau Plan of Development (POD).
BPMA mendorong agar proses evaluasi itu dapat ditindaklanjuti secara sistematis, sehingga peluang pengembangan potensi gas di wilayah kerja terkait dapat dinilai secara lebih komprehensif.
"Hasil kajian ini menjadi salah satu dasar dalam menentukan tahapan kegiatan berikutnya, termasuk persiapan menuju pengembangan lapangan melalui POD apabila seluruh persyaratan teknis dan keekonomian telah terpenuhi," ujarnya.
Dirinya menyampaikan, percepatan proses evaluasi dan tindak lanjut pengembangan merupakan hal penting untuk memastikan potensi sumber daya migas Aceh dapat dinilai dan dimanfaatkan secara optimal.
“Kita ingin memastikan proses pengembangan potensi migas Aceh dapat berjalan lebih cepat, khususnya pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan," katanya.
BPMA berharap, setiap tahapan dilaksanakan secara terukur berdasarkan kajian teknis, dengan tetap memperhatikan kelayakan komersial serta pemenuhan seluruh ketentuan dan persyaratan yang berlaku.
Ia menegaskan, rencana pengembangan lapangan tidak dapat dilepaskan dari hasil evaluasi menyeluruh terhadap potensi sumber daya, aspek teknis, dan keekonomian.
"Oleh karena itu, koordinasi antara BPMA dan kontraktor menjadi bagian penting untuk memastikan setiap keputusan pengembangan didasarkan pada data dan kajian yang dapat dipertanggungjawabkan," tegasnya.
Secara historis, Sumur Singkil-1 yang dibor pada 1973 pernah mencatat aliran gas sebesar 10,06 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day / MMSCFD). Sementara itu, Sumur Meulaboh-1 yang dibor pada 1970 mencatat aliran gas sebesar 6,7 MMSCFD.
Data tersebut menjadi salah satu referensi dalam mengevaluasi potensi kedua struktur. Tetapi, potensi pengembangannya masih memerlukan kajian teknis lanjutan untuk memastikan besaran sumber daya yang dapat diproduksikan, karakteristik reservoir, serta kelayakan komersialnya.
Dengan demikian, percepatan evaluasi potensi dan persiapan pengembangan perlu berjalan seiring dengan pemenuhan kewajiban eksplorasi. Sehingga seluruh tahapan kegiatan hulu migas berlangsung terarah, terukur, dan sesuai dengan ketentuan berlaku.
"BPMA berkomitmen untuk terus mengawal proses evaluasi dan persiapan pengembangan potensi migas di Aceh, termasuk struktur Meulaboh dan Singkil. Ini membuka peluang peningkatan pasokan gas, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional," demikian Mawardi Nur.
Sebagai informasi, adapun luas wilayah kerja OSWA sebesar 8.200 km2 dan ONWA seluas area 9.200 km2 dengan risiko geologi rata-rata moderate to high risk, khususnya di migration dan keberadaan source rock.
Komitmen dengan perusahaan tersebut sampai tiga tahun pertama dengan total nilai investasi 30 juta dolar AS atau setara Rp470,4 miliar. Jumlah total investasi komitmen pasti dari dua wilayah kerja sebesar 30 juta dolar AS dan bonus tanda tangan sebesar 100 ribu dolar AS.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026