Batam (ANTARA) - Badan Pengusahaan (BP) Batam tengah menyiapkan lahan dan perizinan untuk pengembangan industri padat karya guna mengimbangi pertumbuhan investasi pusat data (data center) yang padat modal di Batam, Kepulauan Riau.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi BP Batam Irfan Syakir Widyasa mengatakan pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kegiatan industri sekaligus membuka peluang penyerapan tenaga kerja di Batam.
"Industri data center yang kita tahu sangat padat modal itu, nah di Batam juga diimbangi dengan berbagai industri padat karya," kata Irfan dalam Workshop Kehumasan dan Media Gathering Kementerian Transmigrasi di Batam, Kepulauan Riau, Jumat.
Ia menjelaskan masuknya investasi pusat data menunjukkan semakin beragamnya sektor industri di Batam.
Namun, pengembangan industri yang membutuhkan banyak tenaga kerja juga menjadi perhatian agar pertumbuhan investasi dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Menurut dia, sejumlah kawasan industri yang diproyeksikan mendukung pengembangan tersebut masih berada dalam tahap persiapan, terutama terkait penyediaan lahan dan penyelesaian perizinan.
"Nah, hanya saja yang padat karyanya ini masih proses penyiapan lahan, perizinan, dan penyiapan-penyiapan," ujarnya.
Irfan menyebut pengembangan kawasan industri berskala besar tidak hanya berpusat di Rempang Eco-City, tetapi juga mencakup sejumlah wilayah lain di Batam.
"Tidak hanya Rempang Eco-City, ada yang sama besarnya nanti di Galang, Galang Gesek, lalu di Pulau Tanjung Sauh sama besarnya, di Pulau Setokok sama besarnya," ungkap Irfan.
Ia mengatakan pengembangan industri juga berlangsung melalui perluasan kawasan yang sudah ada, sehingga pertumbuhan kegiatan usaha tidak hanya mengandalkan pembukaan lokasi investasi baru.
"Kawasan-kawasan industri di Batam yang besar-besar itu sudah ekspansi menambah lokasi," katanya.
Irfan memperkirakan sejumlah kawasan industri yang tengah dikembangkan tersebut akan mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu hingga tiga tahun mendatang.
Meski demikian, ia belum merinci jenis industri yang akan beroperasi di masing-masing lokasi, besaran investasi yang disiapkan, maupun perkiraan jumlah tenaga kerja yang dapat terserap.
Menurut Irfan, kesiapan kawasan menjadi salah satu faktor penting dalam menarik investasi, mencakup ketersediaan infrastruktur, kepastian tata ruang, kemudahan perizinan, serta dukungan sumber daya manusia.
Dalam paparannya, ia menyebut Batam telah memiliki 31 kawasan industri, empat kawasan ekonomi khusus (KEK), dan tiga proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi bagian dari ekosistem pengembangan investasi.
Keberadaan kawasan tersebut melengkapi kegiatan ekonomi Batam yang mencakup industri manufaktur, galangan kapal, logistik, dan sektor digital, termasuk pengembangan pusat data.
Irfan juga menyampaikan bahwa realisasi investasi Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp60 triliun.
Selain perluasan kawasan industri, BP Batam menempatkan penyiapan tenaga kerja sebagai salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing investasi.
Menurut dia, ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan industri dan sertifikasi kompetensi menjadi bagian dari arah pengembangan Batam ke depan.
"Jadi ke depan Batam akan promosi bahwa kalau perusahaan buka di Batam, kita siap talent-nya, siap human resource-nya yang tersertifikasi, yang berstandar internasional," ucapnya.
Terkait pengembangan Rempang Eco-City, Irfan mengatakan BP Batam juga bekerja sama dengan Kementerian Transmigrasi dalam penyiapan masyarakat, termasuk pemetaan potensi, minat, dan keterampilan warga untuk mendukung kegiatan ekonomi di kawasan tersebut.
Melalui pengembangan industri padat karya dan penyiapan sumber daya manusia, BP Batam berharap pertumbuhan investasi dapat diikuti perluasan kesempatan kerja serta peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026