BUMN tekstil lagi kita koordinasikan antara Danantara dengan Kementerian Perindustrian. Langkahnya belum bisa diceritakan sekarang karena prosesnya masih terus berlanjut
Denpasar (ANTARA) - Pemerintah mendorong pembaruan mesin dan penerapan teknologi terkini untuk memperkuat daya saing industri tekstil nasional.
Upaya tersebut menjadi salah satu perhatian dalam rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) tekstil yang saat ini masih dikoordinasikan bersama Danantara.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji di Denpasar, Bali, Sabtu, mengatakan koordinasi antara Danantara dan Kementerian Perindustrian masih berlangsung.
Namun, Sarmuji belum dapat menyampaikan langkah lebih terinci karena prosesnya masih berjalan.
“BUMN tekstil lagi kita koordinasikan antara Danantara dengan Kementerian Perindustrian. Langkahnya belum bisa diceritakan sekarang karena prosesnya masih terus berlanjut, tapi kita akan fokus untuk memperkuat industri pertekstilan,” kata Sarmuji saat meninjau Balai Diklat Industri Denpasar, Bali, Sabtu.
Menurut dia, salah satu persoalan penting yang perlu diperhatikan dalam penguatan industri tekstil adalah pembaruan mesin dan peralatan produksi.
Apabila perusahaan yang sudah tidak berproduksi diambil alih, diperlukan perbaikan peralatan serta kemungkinan penerapan teknologi terbaru agar perusahaan tersebut mampu kembali bersaing.
Sarmuji menilai persaingan industri tekstil global sangat ketat.
Negara-negara produsen seperti China memiliki keunggulan karena didukung mesin produksi yang modern dan relatif baru.
Karena itu, pembentukan BUMN tekstil nantinya diharapkan tidak sekadar menghidupkan kembali perusahaan yang mengalami kesulitan, tetapi juga membangun keunggulan industri melalui modernisasi teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.
“Kalau mengambil, misalkan kita 'take over' perusahaan untuk diambil alih yang sudah tidak berproduksi, itu tentu harus ada perbaikan equipment-nya, peralatannya kita perbaiki, mungkin juga harus kita injeksi teknologi paling baru supaya hasilnya itu memiliki keunggulan yang besar bagi Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan hingga saat ini belum ada jadwal pasti mengenai realisasi pembentukan BUMN tekstil tersebut.
Meski demikian, pemerintah berharap prosesnya dapat berlangsung lebih cepat mengingat industri tekstil merupakan sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Sarmuji menyebutkan Danantara telah menunjukkan komitmen untuk mengucurkan dana dalam jumlah besar guna mendukung rencana penguatan industri tersebut.
Selain modernisasi mesin, pemerintah juga membuka peluang untuk menggabungkan keunggulan sejumlah perusahaan tekstil yang akan diakuisisi. Strategi ini diharapkan dapat menciptakan kapasitas dan daya saing baru yang lebih kuat dibandingkan jika setiap perusahaan berjalan sendiri-sendiri.
“Kami berharap beberapa perusahaan yang masing-masing memiliki keunggulan itu bisa disatukan keunggulannya menjadi keunggulan baru yang lebih besar,” katanya.
Melalui langkah tersebut, Kemenperin berharap industri tekstil nasional mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing di pasar global, serta mempertahankan perannya sebagai salah satu sektor padat karya di Indonesia.
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026