Komitmen terhadap telur bebas sangkar merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar diterapkan dalam praktik
Surakarta, Jawa Tengah (ANTARA) - Animal Friends Jogja (AFJ) menilai bahwa penguatan komunikasi dan kolaborasi antara perusahaan, pemasok, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk menerjemahkan komitmen penggunaan telur unggas bebas sangkar menjadi implementasi yang konkret, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Komitmen terhadap telur bebas sangkar merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut benar-benar diterapkan dalam praktik," kata Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan, AFJ Elly Mangunsong dalam keterangannya di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu.
Menurut dia, transisi ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan ayam petelur, karena sistem bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak lebih leluasa dan mengekspresikan perilaku alaminya dibandingkan sistem kandang baterai.
"Karena itu, diperlukan keterbukaan, kolaborasi dan langkah yang konkret dari berbagai pihak agar perubahan dalam rantai pasok juga membawa dampak nyata bagi kesejahteraan ayam petelur," ujarnya.
Ia mengatakan bahwa komitmen perusahaan untuk beralih ke penggunaan telur bebas sangkar (cage-free) perlu diimbangi dengan kesiapan rantai pasok yang mampu memenuhi kebutuhan industri secara konsisten.
Ketersediaan pasokan, biaya, standar kualitas, distribusi, hingga ketertelusuran, dan verifikasi produk menjadi sejumlah aspek penting agar komitmen tersebut dapat diterapkan dalam operasional bisnis.
Hal itu terungkap pada acara fokus Corporate Roundtable Discussion 2026 yang diselenggarakan Animal Friends Jogja (AFJ) dengan tema “Beyond Commitment: Corporate Insights and Collaboration for Responsible Sourcing”.
Kegiatan tersebut mempertemukan perusahaan, produsen telur bebas sangkar, pemerintah, dan organisasi kesejahteraan hewan untuk membahas tantangan implementasi serta peluang kolaborasi dalam memperkuat rantai pasok telur bebas sangkar di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Ketua Kelompok Substansi Penerapan, Pengawasan, dan Sertifikasi Mutu Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Boethdy Angkasa menyampaikan bahwa pemerintah akan mendukung transisi menuju sistem cage-free sebagai bentuk diferensiasi produk yang berpotensi dipromosikan melalui tren gaya hidup sehat.
Sementara itu, Tri Widiantoro dari Chocolate Monggo menekankan pentingnya mengintegrasikan praktik pengadaan yang bertanggung jawab ke dalam keputusan bisnis sekaligus edukasi konsumen.
"Pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab perlu menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar beban tambahan bagi perusahaan," katanya.
Dari hasil Focus Group Discussion (FGD), peserta mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam implementasi telur bebas sangkar, yaitu keterbatasan pasokan dan informasi mengenai peternakan cage-free, rendahnya kesadaran masyarakat, serta harga telur cage-free yang lebih tinggi dibandingkan telur dari kandang baterai.
Perusahaan yang telah berkomitmen mengungkapkan bahwa kendala pasokan dapat diatasi melalui kerja sama dengan lebih dari satu peternak.
Sementara itu, peningkatan kesadaran konsumen perlu didorong melalui penyebarluasan informasi yang relevan dan mengikuti perkembangan zaman. Adapun penerapan komitmen 100 persen telur bebas sangkar dapat dilakukan secara bertahap untuk mengatasi tantangan harga.
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026