Jakarta (ANTARA) - Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia Dony Oskaria menyatakan transformasi pengelolaan badan usaha milik negara (BUMN) turut meningkatkan laba bersih gabungan sebesar 18,4 persen menjadi Rp214,9 triliun pada Januari–Agustus 2026.
Dony, yang juga menjabat Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), memaparkan capaian tersebut dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.
"Karena itu tadi, transformasi yang sudah kita lakukan memberikan hasil," kata Dony dalam sesi C-Suite Danantara.
Berdasarkan data yang ditampilkan Danantara, laba bersih gabungan BUMN meningkat dari Rp181,5 triliun pada Januari–Agustus 2025 menjadi Rp214,9 triliun pada periode yang sama tahun ini, atau bertambah Rp33,4 triliun secara tahunan.
Peningkatan laba tersebut juga diikuti perbaikan tingkat pengembalian atas ekuitas (return on equity/ROE) yang disetahunkan menjadi 8,0 persen pada delapan bulan pertama 2026, dibandingkan 7,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan demikian, ROE gabungan BUMN meningkat sebesar 0,6 poin persentase, yang mencerminkan perbaikan tingkat pengembalian atas modal pemegang saham.
Dony menjelaskan bahwa transformasi dilakukan melalui evaluasi model bisnis, sumber dan komposisi pendapatan, struktur biaya, serta tingkat keuntungan perusahaan dengan mengacu pada praktik terbaik industri global.
Salah satu BUMN yang mencatat pertumbuhan laba terbesar adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), dengan peningkatan laba bersih sebesar 427 persen secara tahunan pada periode Januari–Agustus 2026.
"Bapak-Ibu bisa lihat, Semen Indonesia membukukan keuntungan, kenaikan keuntungan 427 persen," ujar Dony.
Selain Semen Indonesia, paparan Danantara menunjukkan pertumbuhan laba Pupuk Indonesia sebesar 233 persen, Danareksa 110 persen, serta PTPN III sebesar 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah BUMN lainnya juga membukukan peningkatan laba, yakni Pertamina sebesar 48 persen, Pelindo 45 persen, Bank Tabungan Negara (BTN) 35 persen, dan Bank Mandiri 16 persen secara tahunan.
Dony mengaitkan perbaikan kinerja tersebut dengan pembenahan model bisnis dan pengelolaan perusahaan yang dilakukan secara bertahap, termasuk penguatan disiplin keuangan dan tata kelola BUMN.
"Sekarang perusahaan-perusahaan kita di-manage dengan tata kelola yang baik," ungkapnya.
Menurut Dony, peningkatan kinerja BUMN menjadi faktor penting bagi keberlanjutan Danantara Indonesia karena sumber pendanaan investasinya bertumpu pada dividen yang dihasilkan perusahaan negara.
Oleh karena itu, perbaikan profitabilitas BUMN menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas Danantara untuk membiayai investasi pada sektor-sektor strategis yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja di Indonesia.
Sebelumnya, pada 8 Oktober 2026, Dony menyampaikan bahwa Danantara melakukan pembenahan tata kelola BUMN, antara lain melalui pembentukan komite investasi untuk memastikan setiap penanaman modal sesuai dengan peruntukan dan rencana kerja perusahaan.
Selanjutnya, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan dividen Danantara belum diperhitungkan sebagai penerimaan APBN pada 2026 dan 2027.
Menurut dia, kontribusi Danantara juga dapat dilihat dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produksi, dan menarik investasi swasta.
Danantara resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025 sebagai lembaga pengelola investasi strategis nasional. Pembentukannya berlandaskan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 dan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2025 untuk memperkuat pengelolaan aset dan investasi negara.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026