Kebijakan transformasi ditempuh guna mengurangi ketergantungan fiskal terhadap dana transfer pusat dan menghadapi tantangan penahanan dana bagi hasil
Samarinda (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berkomitmen mempercepat transformasi ekonomi dari sektor ekstraktif menuju ekonomi berkelanjutan berbasis hilirisasi industri untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Kebijakan transformasi ditempuh guna mengurangi ketergantungan fiskal terhadap dana transfer pusat dan menghadapi tantangan penahanan dana bagi hasil," kata Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji saat membuka Forum Konsultasi Daerah (FKD) Rencana Transformasi Ekonomi Kalimantan Timur 2045 di Samarinda, Selasa.
Menurut dia, kondisi fiskal Kaltim yang selama ini mengandalkan ekonomi ekstraktif ke depan kurang menguntungkan karena dana bagi hasil yang seharusnya berjumlah besar saat ini masih tertahan di pusat.
"Karena itu, Kaltim harus segera menyiapkan transformasi ekonomi baru,” jelas Seno.
Transformasi ekonomi yang diharapkan adalah mengubah ketergantungan dari sektor ekstraktif batu bara serta minyak dan gas bumi (migas) menjadi ekonomi berkelanjutan.
Saat ini, sekitar 34 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim masih didominasi oleh ekonomi ekstraktif, dan ketergantungan tersebut dinilai harus segera diakhiri.
Kondisi yang diinginkan berupa pembaruan pada sektor produsen dan ekonomi di tingkat masyarakat, sehingga ke depan PAD akan semakin meningkat.
Peningkatan pendapatan tersebut secara langsung akan mendorong penguatan postur APBD, sehingga daerah tidak lagi bergantung pada transfer pusat.
“Kita harapkan postur APBD kita ke depan sebagian besar sudah bersumber dari pendapatan asli daerah,” tegas Wagub Seno.
Dengan transformasi ekonomi tersebut, Pemprov Kaltim menargetkan dalam tiga tahun ke depan minimal 50 persen dari postur APBD Kaltim sudah bersumber dari PAD.
Wagub Seno juga merujuk laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa potensi pengembangan ekonomi non-ekstraktif di Kaltim sangat besar.
Opsi potensial yang terus dikembangkan adalah industri pengolahan non-ekstraktif, seperti hilirisasi energi dan kelapa sawit.
Saat ini, pengembangan hilirisasi kelapa sawit sudah berjalan di Kota Bontang dan Kota Balikpapan. Ke depan, pengembangan juga diarahkan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Nusantara (MBTN) di Kabupaten Kutai Timur.
“Beberapa pabrik minyak goreng sudah ada di Bontang dan Balikpapan. Kami ingin tidak berhenti di minyak goreng saja, karena banyak sekali turunan sawit ini seperti keju, kosmetik, dan lainnya,” ungkapnya.
Melalui strategi baru transformasi ekonomi ini, Wagub Seno berharap para pemilik modal bersedia membangun pabrik hilirisasi mereka langsung di Kaltim.
Keuntungan yang diharapkan dari investasi ini antara lain peningkatan pendapatan daerah, terbukanya kesempatan kerja yang lebih luas, serta berkurangnya angka kemiskinan.
Untuk mencapai kemandirian daerah tersebut, Kaltim harus bersikap terbuka terhadap masuknya investasi baru sekaligus bersiap diri menjadi superhub ekonomi bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Tentu saja rencana ini harus selaras dengan program unggulan Gubernur dan Pemprov Kaltim. Salah satunya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia agar generasi muda kita memiliki kompetensi untuk mendukung program unggulan ini," kata Seno Aji.
Pewarta: Arumanto
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026