Belum, ya. Belum. Karena kan kalau dimerger-kan kondisinya belum betul-betul baik dua-duanya
Jakarta (ANTARA) - Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menyatakan, pembenahan bisnis dan layanan Garuda Indonesia menjadi prioritas sebelum rencana penggabungan maskapai BUMN dilaksanakan guna memastikan kondisi perusahaan lebih sehat.
Ia menjelaskan bahwa penggabungan belum dilakukan karena perusahaan yang akan dikonsolidasikan masih memerlukan perbaikan kinerja bisnis.
"Belum, ya. Belum. Karena kan kalau dimerger-kan kondisinya belum betul-betul baik dua-duanya," kata Dony seusai memberikan paparan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.
Ia mengatakan, Danantara memilih memprioritaskan transformasi masing-masing perusahaan agar proses konsolidasi nantinya tidak menimbulkan tambahan beban operasional maupun keuangan.
Khusus Garuda Indonesia, Dony yang juga menjabat Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) menilai, transformasi bisnis masih perlu dilanjutkan secara menyeluruh, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman penumpang.
Menurut dia, pembenahan tersebut mencakup seluruh tahapan perjalanan penumpang, mulai dari pelayanan sebelum penerbangan, selama berada di pesawat, hingga setelah tiba di tujuan.
"Saya sebenarnya kan berharap bahwa ini total terjadi perubahan mulai dari pre-flight, in-flight, post-flight-nya. Service-nya mesti berubah," ujarnya.
Danantara juga tengah mengevaluasi kualitas proses lapor masuk penerbangan (check-in) serta pelayanan di dalam pesawat sebagai bagian dari upaya meningkatkan standar layanan Garuda Indonesia.
Ia menilai peningkatan kualitas pelayanan perlu menjadi perhatian utama karena transformasi yang berjalan sejauh ini belum sepenuhnya memenuhi harapan Danantara.
Selain pembenahan layanan, Danantara juga menyiapkan rencana penyegaran merek (rebranding) Garuda Indonesia, termasuk kemungkinan penyesuaian seragam dan identitas visual perusahaan.
"Nanti akan kita ada rebranding juga. Tapi bukan namanya ya, namanya tetap ya pasti Garuda Indonesia," ungkap Dony.
Ia menjelaskan, penyegaran tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan tampilan yang lebih segar, disertai semangat dan motivasi baru dalam meningkatkan kualitas perusahaan.
Namun, perubahan seragam maupun identitas visual masih dalam tahap evaluasi sehingga belum menjadi keputusan final.
Dony menegaskan, penggabungan maskapai baru akan dilanjutkan apabila kondisi bisnis perusahaan yang terlibat dinilai telah membaik.
"Nanti kalau dua-duanya sudah bagus, baru kita lakukan merger-nya," tutur dia.
Danantara bersama BP BUMN pada 24 Juli 2026 menyampaikan rencana konsolidasi maskapai pelat merah dengan menempatkan Garuda Indonesia sebagai induk usaha, sedangkan Pelita Air direncanakan menjadi bagian dari Garuda Indonesia Group.
Selanjutnya, pada 15 Oktober 2026, BP BUMN dan Danantara memperkuat arah transformasi Garuda Indonesia melalui optimalisasi armada, pengembangan pasar, peningkatan pengalaman pelanggan, serta penguatan daya saing maskapai nasional.
Berdasarkan laporan keuangan pada 2 Oktober 2026, Garuda Indonesia mencatat pendapatan sebesar 1,80 miliar dolar AS atau sekitar Rp32,52 triliun pada semester I 2026, meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, rugi bersih perseroan menyusut 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS atau sekitar Rp2,04 triliun, dari 147,1 juta dolar AS pada semester I 2025.
Berdasarkan laporan tahunan resmi perusahaan, Garuda Indonesia Group melayani 21,2 juta penumpang sepanjang 2025, turun 10,5 persen dibandingkan 23,7 juta penumpang pada 2024, seiring penurunan frekuensi penerbangan domestik.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026