Mendapatkan pembeli dari luar negeri bukan perkara mudah bagi pelaku usaha yang baru merintis ekspor. Selain memiliki produk berkualitas, pelaku usaha perlu ... [1,130] url asal
Jakarta (ANTARA) - Mendapatkan pembeli dari luar negeri bukan perkara mudah bagi pelaku usaha yang baru merintis ekspor. Selain memiliki produk berkualitas, pelaku usaha perlu memahami karakter pasar, menjaga konsistensi produksi, hingga membangun kepercayaan dengan calon pembeli.
Pengalaman itu dirasakan Thio Siujinata, pemilik usaha kriya Craftote, yang mulai mengenal pasar ekspor melalui Trade Expo Indonesia (TEI) pada 2023. Berawal dari ketidaktahuan mengenai mekanisme perdagangan internasional, ia kini telah melakukan tujuh kali pengiriman produk ke Kanada sejak ekspor perdananya pada 2024.
Bagi Thio, TEI bukan sekadar tempat memamerkan produk, melainkan pintu untuk belajar dan mengembangkan usaha. Melalui fasilitas Kementerian Perdagangan, ia memperoleh akses ke calon pembeli mancanegara sekaligus kesempatan mengikuti pembinaan desain untuk meningkatkan daya saing produknya.
Perjalanan Craftote memperlihatkan bagaimana dukungan akses pasar dan pengembangan kapasitas dapat membantu usaha lokal melangkah menuju ekspor. Sementara itu, bagi perusahaan yang telah memiliki pengalaman perdagangan internasional, TEI menjadi kesempatan untuk menjangkau pembeli dan pasar baru.
Pemilik usaha kriya Craftote Thio Siujinata memperlihatkan beberapa produknya yang berada di Product Placement Pilihan BuSan x UMKM BISA Ekspor pada Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)
Dari nol
Thio membangun usahanya berangkat dari keinginan membuka kesempatan kerja bagi anak-anak panti asuhan. Dengan latar belakang desain grafis dari Institut Kesenian Jakarta, ia bersama istrinya mendirikan Crafted Gallery & Coffee, usaha yang memadukan galeri kerajinan tangan dengan kedai kopi.
Pada awalnya, usaha tersebut berjalan dengan mengandalkan kemampuan sendiri. Kesempatan berkembang muncul setelah salah satu produknya mendapat penghargaan dalam pameran Kriyanusa pada 2023. Dari sana, Craftote memperoleh kesempatan mengikuti TEI.
Thio mengaku belum memahami bagaimana proses ekspor bekerja ketika pertama kali bertemu calon pembeli dari Jepang dan Kanada.
"Pertama kali ikut TEI pada 2023, kami senang, tetapi sebenarnya belum mengerti apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba bertemu buyer dari Jepang dan Kanada. Ibaratnya, orang yang belum bisa berenang langsung diceburkan ke kolam," kata Thio saat berbincang di ICE BSD, Kabupaten Tangerang beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut menjadi awal pembelajaran. Thio mulai memahami pentingnya menindaklanjuti komunikasi dengan calon pembeli, mempelajari mekanisme pengiriman sampel, hingga mengurus kebutuhan ekspor.
Hasilnya tidak datang seketika. Craftote baru melakukan pengiriman perdana ke Kanada pada 2024. Namun, hubungan dengan pembeli tersebut terus terjaga hingga kini, dengan total tujuh kali pengiriman. Pada Juni 2026, Craftote bahkan mengirim satu kontainer berukuran 40 kaki dengan nilai sekitar Rp160 juta.
Perkembangan itu turut didukung pembinaan desain dari Indonesia Design Development Center (IDDC) di bawah Kementerian Perdagangan. Melalui fasilitas tersebut, Thio berkonsultasi untuk mengembangkan produk agar tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki fungsi dan sesuai kebutuhan pasar.
Salah satu hasil pengembangannya adalah produk lampu berbahan bambu yang semula dirancang sebagai lentera dekoratif. Craftote juga mengembangkan kerajinan berbahan eceng gondok dan pelepah pisang menjadi tas serta keranjang dengan desain yang lebih beragam.
Menurut Thio, pembinaan tersebut memberinya pemahaman bahwa pengembangan produk membutuhkan riset dan pengembangan, bukan hanya kreativitas.
Di TEI 2026, Craftote kembali mencari peluang pasar baru. Usaha tersebut memperoleh penjajakan bisnis dengan calon pembeli dari Australia dan Finlandia, dengan potensi transaksi sekitar 40.000 dolar AS. Meski belum terjadi kesepakatan final, pertemuan itu membuka kesempatan untuk memperluas pasar di luar Kanada.
Thio juga melibatkan kelompok perajin dari sejumlah daerah dalam proses produksi. Dengan membagi pekerjaan sesuai keahlian dan kapasitas masing-masing kelompok, ia berupaya menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi pesanan.
Bagi Thio, pengalaman mengikuti TEI dan pembinaan Kemendag membuatnya tidak hanya memperoleh calon pembeli, tetapi juga pengetahuan untuk mengembangkan usaha dan memahami persyaratan pasar internasional.
Sejumlah produk milik Roemah Koffie yang dipamerkan di Product Placement Pilihan BuSan x UMKM BISA Ekspor pada gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten. (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)
Mencari peluang pasar baru
Jika Craftote memanfaatkan TEI sebagai bagian dari perjalanan belajar menembus ekspor, Roemah Koffie hadir dengan pengalaman perdagangan internasional yang telah berkembang.
Perusahaan kopi yang berdiri pada 2022 tersebut mengembangkan bisnis melalui kedai kopi, fasilitas pemanggangan biji kopi atau roastery, serta pasokan untuk pelanggan bisnis. Saat ini, Roemah Koffie telah mengirim biji kopi mentah ke Australia dan Yunani, serta kopi sangrai dalam kemasan ke sejumlah negara, termasuk Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Amerika Serikat.
Assistant Sales Manager Roemah Koffie Alman Alamsyah mengatakan keikutsertaan dalam TEI 2026 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli baru dan memperluas jangkauan pasar. Melalui fasilitasi business matching, Roemah Koffie telah menjajaki peluang dengan calon pembeli dari Amerika Serikat, Taiwan, dan Malaysia.
Salah satu penjajakan dengan importir dan distributor dari Amerika Serikat bahkan membuka potensi permintaan sekitar tiga hingga empat kontainer, dengan estimasi nilai 400.000-500.000 dolar AS.
Meski demikian, peluang tersebut masih memerlukan tindak lanjut sebelum menjadi transaksi ekspor yang terealisasi.
Selain mencari pembeli baru, Roemah Koffie membawa produk yang mengangkat identitas kopi Indonesia. Perusahaan menggandeng petani lokal dari berbagai daerah, seperti Kerinci, Gayo, Temanggung, dan Garut. Cerita mengenai asal biji kopi, petani, dan proses pascapanen menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk kepada konsumen.
Roemah Koffie juga mulai memperkenalkan produk kopi siap minum atau ready-to-drink yang diharapkan dapat membuka peluang ekspor pada segmen baru.
Assistant Sales Manager Roemah Koffie Martin Ariestian mengatakan perluasan pasar tetap membutuhkan kesiapan dalam memenuhi ketentuan negara tujuan, termasuk dokumen dan persyaratan khusus untuk produk yang diperdagangkan.
Karena itu, perusahaan berupaya memanfaatkan jejaring dan fasilitasi perdagangan untuk menemukan peluang yang sesuai dengan kapasitas usahanya.
"Kita open banget untuk semua negara. Cuma emang di tahun ini, kita rasa untuk negara seperti Rusia, Uzbekistan, dan US itu lagi seksi banget negaranya dan demand-nya juga kita tahu di sana lagi banyak banget. Semoga dengan terpilihnya produk kita di Pilihan Busan juga bisa membantu," kata Martin.
Ubah peluang jadi transaksi nyata
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan TEI merupakan salah satu program Kementerian Perdagangan untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli mancanegara guna memperluas peluang ekspor.
Upaya tersebut sejalan dengan program prioritas Kemendag, Dari Lokal untuk Global, yang diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk lokal dan mendorong lebih banyak pelaku usaha memasuki pasar internasional.
Kemendag juga memfasilitasi penjajakan bisnis melalui jaringan 46 kantor perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara. Dukungan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memperoleh informasi pasar, menjangkau calon pembeli, dan menindaklanjuti peluang perdagangan.
Pengalaman Craftote dan Roemah Koffie menunjukkan bahwa kebutuhan pelaku usaha dapat berbeda. Bagi usaha yang baru merintis ekspor, akses pasar perlu disertai pembinaan agar mampu memenuhi kebutuhan pembeli. Sementara bagi eksportir yang telah berkembang, fasilitasi business matching menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan dan mencari pasar baru.
Pada akhirnya, keberhasilan TEI tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pertemuan bisnis atau nilai potensi transaksi selama pameran. Yang lebih penting adalah bagaimana peluang tersebut ditindaklanjuti menjadi pesanan, pengiriman, dan hubungan dagang berkelanjutan.
Dari perajin yang baru belajar menembus pasar internasional hingga perusahaan kopi yang ingin memperluas jangkauan, TEI menjadi salah satu ruang bagi produk Indonesia untuk menemukan pembelinya di dunia.
Menteri Perdagangan (Mendag) mengatakan pemenuhan standar internasional sangat penting bagi produk-produk Indonesia terutama bagi usaha mikro, kecil dan ... [284] url asal
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) mengatakan pemenuhan standar internasional sangat penting bagi produk-produk Indonesia terutama bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bisa menembus pasar ekspor.
“Salah satu upaya adalah bagaimana (produk Indonesia) bisa memenuhi persyaratan-persyaratan internasional,” kata Mendag Budi di sela agenda Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Jumat.
Menurut Mendag, saat ini kegiatan perdagangan internasional Indonesia memiliki sejumlah tantangan di luar tarif (non-tariff barrier) seperti persyaratan yang ketat dari negara-negara tujuan ekspor.
“Kita harus meningkatkan ekspor UMKM kita karena ekspor kita ini tidaklah mudah diterima oleh negara lain, karena banyak hambatan sanitary phytosanitary (SPS),” ujar Budi.
Ia mengatakan, pemenuhan persyaratan perdagangan dan karantina menjadi aspek penting dalam menjaga kepercayaan mitra dagang serta memperluas akses pasar bagi produk ekspor nasional.
“Khususnya komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan beserta produk turunannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” katanya.
Selain itu, Mendag mengatakan pihaknya berkomitmen untuk memperkuat koordinasi dan menyelaraskan pelaksanaan tugas dan fungsi antarlembaga agar proses perdagangan dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
“Dengan demikian, produk Indonesia akan semakin siap memenuhi persyaratan pasar tujuan dan memanfaatkan peluang ekspor yang tersedia,” ujar Budi.
Di sisi lain, Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Badan Karantina Indonesia (Barantin) menjalin kerja sama terkait standardisasi produk, peningkatan keamanan dan ketelusuran komoditas, sebagai upaya untuk mendorong kinerja ekspor Indonesia.
Koordinasi dan pertukaran informasi yang efektif antara kedua instansi diharapkan dapat mendukung pelayanan yang lebih terintegrasi, meningkatkan kepastian bagi pelaku usaha, serta membantu memastikan pemenuhan persyaratan perdagangan dan karantina.
Ke depan, Kemendag dan Barantin berkomitmen untuk menindaklanjuti Kesepakatan Bersama tersebut melalui koordinasi dan langkah-langkah implementasi sesuai dengan kewenangan masing-masing.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Astra menandatangani 10 nota kesepahaman (MoU) terkait kerja sama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan ... [290] url asal
Banten (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Astra menandatangani 10 nota kesepahaman (MoU) terkait kerja sama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan total nilai mencapai Rp69 miliar dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari kolaborasi untuk memperluas peluang usaha dan meningkatkan akses pasar UMKM, termasuk bagi pelaku usaha di perdesaan.
"Jadi ada 10 MoU. Astra kan punya program namanya Desa Sejahtera. Kita punya program namanya Desa Bisa Ekspor. Jadi kita satukan, kita kerja sama, kolaborasi," ujar Budi.
Menurut Budi, total nilai MoU tersebut mencapai Rp69 miliar dan seluruh berkaitan dengan UMKM. Kerja sama ini diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi pelaku usaha kecil untuk mengembangkan bisnis dan menjangkau pasar yang lebih besar.
Ia menegaskan kesempatan menembus pasar ekspor tidak hanya dimiliki perusahaan besar atau pelaku usaha yang berada di perkotaan. UMKM di desa juga memiliki peluang untuk memasarkan produknya ke luar negeri melalui pendampingan dan kolaborasi berbagai pihak.
"Jadi tidak usah berkecil hati, semua bisa. Tidak hanya yang besar, yang UMKM bisa ekspor. Tidak hanya orang kota, tapi yang desa pun juga bisa ekspor. Nah, kita kejar bareng," katanya.
Budi menambahkan, Kemendag memiliki program UMKM Bisa Ekspor dan Desa Bisa Ekspor untuk mendorong semakin banyak pelaku usaha lokal memasuki pasar internasional.
Pemerintah juga memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) agar UMKM dapat terhubung dengan calon pembeli.
Selain menggarap pasar ekspor, Kemendag mendorong produk UMKM memperluas pemasaran di dalam negeri melalui kemitraan dengan ritel modern dan minimarket.
Menurut Budi, pelaku UMKM perlu terus meningkatkan daya saing produk agar mampu memenuhi kebutuhan pasar, baik dari segi kualitas maupun kemampuan bersaing dengan produk lainnya.