Pangan, kedaulatan, dan ketangguhan bangsa di tengah gejolak dunia

Pangan, kedaulatan, dan ketangguhan bangsa di tengah gejolak dunia

Ketika perang berkecamuk ribuan kilometer dari Indonesia, para petani di pedesaan mungkin tak mendengar suara ledakannya. Namun, mereka tetap merasakan ...

(Antara) 17/10/26 08:56 215684

Hari Pangan Sedunia mengingatkan kita bahwa pangan bukan hanya hasil kerja petani, melainkan hasil kerja seluruh bangsa.

Jakarta (ANTARA) - Ketika perang berkecamuk ribuan kilometer dari Indonesia, para petani di pedesaan mungkin tak mendengar suara ledakannya. Namun, mereka tetap merasakan dampaknya lewat lonjakan harga pupuk, biaya energi, hingga pembengkakan ongkos kirim hasil panen.

Demikian pula ketika kekeringan melanda negara penghasil pangan atau jalur perdagangan internasional terganggu, dampaknya dapat menjalar hingga ke harga makanan di meja keluarga.

Inilah wajah baru persoalan pangan dunia. Pangan tidak lagi dapat dipandang sebatas urusan sawah, ladang, atau pasar. Pangan telah menjadi bagian dari dinamika geopolitik, keamanan ekonomi, perubahan iklim, dan stabilitas suatu bangsa.

Pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2026, kita patut merenungkan kenyataan tersebut sekaligus menilai seberapa tangguh sistem pangan Indonesia menghadapi masa depan yang semakin tidak menentu.

Kemandirian pangan bukan sekadar kemampuan menghasilkan beras yang mencukupi, melainkan kemampuan bangsa melindungi penghidupan rakyatnya ketika dunia menghadapi krisis.

Dunia belum terbebas dari kelaparan

Laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 mencatat sekitar 645 juta manusia mengalami kelaparan pada 2025. Jumlah tersebut memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi sekitar 2,1 miliar orang masih mengalami kerawanan pangan sedang atau berat.

Di balik angka tersebut terdapat kenyataan yang lebih memprihatinkan.

Laporan FAO dan Program Pangan Dunia (WFP) pada Juni 2026 menempatkan Sudan, Sudan Selatan, Yaman, dan Palestina sebagai wilayah dengan krisis kelaparan yang sangat mengkhawatirkan.

Konflik militer menghancurkan lahan pertanian, mengganggu perdagangan, memutus distribusi, dan memaksa masyarakat meninggalkan sumber penghidupannya. Dalam situasi seperti ini, makanan dapat tersedia di suatu tempat, tetapi tidak mampu dijangkau oleh mereka yang paling membutuhkannya.

Sementara itu, perubahan iklim menghadirkan ancaman berbeda yang tidak kalah serius.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) telah mengingatkan meningkatnya risiko terhadap pertanian dan perikanan Asia akibat perubahan suhu, pola hujan, kekeringan, dan kejadian cuaca ekstrem.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, risiko tersebut diperbesar oleh kerentanan infrastruktur dan distribusi antarpulau terhadap bencana.

Krisis pangan dunia mengajarkan bahwa ketergantungan berlebihan pada stabilitas pasar global dapat menjadi kelemahan strategis ketika perang, bencana, dan persaingan dagang terjadi secara bersamaan.

Kemajuan Indonesia yang harus dipertahankan

Di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia memiliki capaian penting yang layak diapresiasi.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling.

Peningkatan tersebut menunjukkan kemajuan dalam kemampuan produksi pangan nasional dan memberikan fondasi penting bagi upaya swasembada beras.

Namun, kita perlu membedakan pencapaian produksi dengan kemandirian pangan yang sesungguhnya.

Swasembada suatu komoditas dapat dicapai ketika produksi domestik mampu memenuhi kebutuhan pada periode tertentu. Kemandirian pangan menuntut kemampuan yang lebih luas: menjaga keberlanjutan produksi, mengendalikan risiko ketergantungan input, menyediakan cadangan, menjamin keterjangkauan, dan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Bangsa yang mampu menghasilkan beras melimpah belum tentu sepenuhnya mandiri apabila masih rentan terhadap gangguan pupuk, energi, benih, air, atau distribusi.

Demikian pula keberhasilan produksi belum sepenuhnya bermakna apabila petani tidak memperoleh keuntungan layak dan masyarakat berpenghasilan rendah kesulitan membeli makanan bergizi.

Karena itu, capaian produksi harus menjadi pijakan untuk memperkuat keseluruhan sistem pangan, bukan menjadi alasan menghentikan pembenahan.

Modernisasi yang Berpihak kepada Petani

Modernisasi merupakan kebutuhan mendesak yang tidak boleh hanya dimaknai sebagai bertambahnya mesin pertanian.

Traktor, alat panen, sensor, teknologi digital, dan kecerdasan buatan hanya bermakna apabila mampu meningkatkan produktivitas, menekan kehilangan hasil, menghemat sumber daya, serta memperbaiki pendapatan bersih petani.

Teknologi harus sesuai dengan karakter lahan, kemampuan operator, kebutuhan pasar, dan kelayakan ekonomi usaha.

Di sinilah pemerintah, perguruan tinggi, industri, lembaga pembiayaan, koperasi, dan petani perlu bekerja dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Pendekatan Cross-Sector Supporting Systems dapat menghubungkan teknologi produksi dengan penguatan irigasi, layanan mekanisasi, pembiayaan, penyimpanan, pengolahan hasil, dan pemasaran.

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga berpotensi membantu agregasi produksi dan pelayanan usaha, sepanjang memperkuat kegiatan ekonomi petani yang telah berjalan, bukan menggantikannya.

Modernisasi harus menjadikan petani sebagai pelaku utama transformasi, bukan sekadar penerima bantuan.

Dari ketahanan pangan menuju keamanan kawasan

Kemandirian pangan Indonesia memiliki arti lebih luas bagi Asia Tenggara.

ASEAN merupakan kawasan yang saling terhubung melalui perdagangan beras, bahan pangan, pupuk, energi, dan jaringan logistik. Gangguan produksi pada satu negara dapat memengaruhi harga dan penghidupan masyarakat di negara lainnya.

Jika Indonesia mampu menjaga produksi dan cadangan strategisnya, tekanan terhadap pasar regional ketika krisis berpotensi berkurang.

Sebaliknya, gangguan pangan yang berkepanjangan dapat memperburuk kemiskinan, meningkatkan ketidakpastian ekonomi, dan memperbesar kerentanan sosial kawasan.

ASEAN bersama China, Jepang, dan Korea Selatan telah mengembangkan mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve untuk mendukung penyediaan beras dalam keadaan darurat.

Indonesia perlu memperkuat perannya melalui kerja sama cadangan pangan, informasi iklim, teknologi pertanian, dan perdagangan yang dapat diprediksi.

Kemandirian nasional tidak berarti menutup diri. Justru negara yang mempunyai sistem pangan tangguh memiliki kapasitas lebih besar untuk membantu tetangganya ketika krisis terjadi.

Stabilitas pangan Indonesia dengan demikian dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan penghidupan masyarakat ASEAN, solidaritas regional, dan keamanan kawasan.

Pangan sebagai fondasi keutuhan bangsa

Arah pembangunan pangan Indonesia selanjutnya harus bertumpu pada tiga prioritas.

Pertama, mempertahankan keberhasilan produksi melalui perlindungan lahan produktif, penguatan irigasi, peningkatan produktivitas, dan teknologi adaptasi iklim.

Kedua, memperkuat ketahanan sistem melalui diversifikasi pangan, pengurangan kehilangan hasil, cadangan yang tersebar, serta infrastruktur logistik yang tetap berfungsi saat bencana.

Ketiga, memastikan keberhasilan pangan diterjemahkan menjadi kesejahteraan petani, keterjangkauan harga, pemenuhan gizi, dan pertumbuhan usaha masyarakat.

Ketiganya harus berjalan bersama.

Kita tidak boleh mengukur keberhasilan semata dari besarnya hasil panen. Ukuran yang lebih mendasar adalah kemampuan setiap keluarga memperoleh makanan aman dan bergizi, serta kemampuan petani membangun kehidupan yang sejahtera dari pekerjaannya.

Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan wilayah perbatasan dan kawasan rawan bencana, pemerataan akses pangan juga merupakan bagian dari ketahanan nasional.

Kesulitan pangan tidak otomatis menimbulkan konflik. Namun, jika berlangsung bersama kemiskinan, ketimpangan, dan gangguan pelayanan publik, kerawanan tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap stabilitas masyarakat.

Karena itu, membangun kemandirian pangan berarti memperkuat kepercayaan rakyat, ketahanan ekonomi, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hari Pangan Sedunia mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan bukanlah sekadar hasil kerja petani, melainkan buah perjuangan seluruh bangsa.

Swasembada boleh jadi capaian berharga, tetapi kemandirian sejati adalah ikhtiar panjang yang tak boleh usai. Dan di atas segalanya, kesejahteraan rakyat harus menjadi muara akhir.

​Indonesia yang kuat bukan hanya bangsa yang sanggup memberi makan rakyatnya hari ini, melainkan yang mampu menjamin generasi mendatang tetap memiliki pangan, penghidupan, dan masa depan yang aman di tengah dunia yang terus berubah.

*) Muhammad Makky adalah Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Universitas Andalas, akademisi bidang teknologi pertanian dan pengembangan hilirisasi komoditas.

Copyright © ANTARA 2026

#ketahanan-pangan #hari-pangan #swasembada #kelaparan #swasembada-beras #cadangan-pangan

https://www.antaranews.com/berita/5792789/pangan-kedaulatan-dan-ketangguhan-bangsa-di-tengah-gejolak-dunia